Indonesia Eximbank kucurkan kredit US$50 juta ke Indoferro

Bisnis Indonesia, 20 Juni 2011. PT Indoferro, anak perusahaan Growth Steel Group, segera mengoperasikan pabrik besi mentah(pig iron) pertama di Indonesia berkapasitas 500.000 ton per tahun pada akhir tahun ini.
Pabrik senilai US$ 130 juta itu akan mengolah batu besi( iron ore) menjadi besi mentah yang merupakan salah satu bahan baku utama untuk menghasilkan produk baja. Berdasarkan data yang diperoleh oleh Bisnis, pabrik Indoferro yang berlokasi di Cilegon, Banten, itu dibangun terintegrasi dengan pabrik hard coking coal berkapasitas 225.000 ton per tahun. Business Development Growth Steel Group Jonatan Handojo, ketika dikonfirmasi, menjelaskan konstruksi pabrik Indoferro saat ini hampir rampung sehingga produksi komersial dapat  dimulai pada November tahun ini. "Investasi proyek itu kami biayai sendiri, walaupun belakangan kami mendapatkan pinjaman dari salah satu bank lokal," ungkapnya kemarin.
Menurut Jonatan, Indoferro akan memproduksi besi mentah sebanyak 500.000 ton dan slag 200.000 ton per tahun. Seluruh slag, limbahproduksi besi mentah, itu akan dibeli oleh Grup Indocement untuk produksi semen generasi ketiga.
 Pabrik kokas.
 Selain Indoferro, Growth Steel juga mendirikan PT. Indocoke Industri yang menghasilkan hard coking coal, bahan campuran untuk produksi baja berkapasitas 600.000 ton per tahun. Coke atau kokas itu akan digunakan Indoferro dan dijual ke pabrik lain yang membutuhkan. Jonatan mengungkapkan investasi yang digelontorkan untuk pabrik Indoferro tahap pertama mencapai US$ 130 juta, di luar modal kerja sekitar US$ 60 juta. Adapun investasi pabrik Indocoke US$20 juta dengan kebutuhan modal kerja US$ 15 juta.
Berdasarkan data Kementrian Perindustrian dan Indonesian Iron and Steel Industri Association (IISA), saat ini belum ada industri yang memproduksi pig iron dan kokas di dalam negeri. Mengenai bahan baku, yakni batu besi, batu bara, dan limestone, dia mengatakan Indoferro sudah memperoleh pasokan dari sejumlah daerah, a.l. Aceh, Sumatra Barat, Jambi, Sulawesi, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat.
"Soal bahan baku tidak masalah karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kondisi ini bahkan mendorong kami menyiapkan ekspansi pabrik ke tahap berikutnya,"ungkap Jonatan.
Menurut dia, pabrik tahap kedua akan dibangun mulai semester I/2012 hingga semester II/2013 dengan investasi US$ 150 juta untuk menambah kapasitas besi mentah 500.000 ton dan slag 200.000 ton per tahun. Pabrik tahap ketiga akan dibangun mulai semester II/2013 hingga semester II/2015 senilai US$245 juta untuk menambah kapasitas produksi besi mentah 1 juta ton dan slag 400.000 ton per tahun.
Sejalan dengan ekspansi pabrik mentah itu, Indoferro juga menyiapkan ekspansi pabrik kokas. Untuk tahap kedua, mulai Januari hingga Juni 2012, perusahaan itu akan menanamkan modal US$ 20 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun.
Selanjutnya perusahaan itu akan menginvestasikan lagi US$ 30 juta untuk menambah kapasitas kokas 600.000 ton pertahun yang ditargetkan rampung pada Desember 2013. Jonatan mengungkapkan proyek Indoferro menarik perhatian dari kalangan perbankan nasional, salah satunya adalah Indonesia Eximbank.
Direktur Kredit Korporasi Indonesia Eximbank Dwi Wahyudi, ketika dikonfirmasi, mengakui pihaknya telah menyetujui pinjaman kepada Indoferro senilai US$50 juta. "Betul, kami menawarkan (kredit) kepada Indoferro. Sudah disetujui," katanya tadi malam.


Sumber: Bisnis Indonesia, Senin 20 Juni 2011 hal-8.